Jumat, 12 Februari 2016

Mahabharata



                              Mahabharata
1. Pengertian Mahabharata:
 Mahabharata adalah sebuah karya sastra kuno yang berasal dari India. Secara tradisional, penulis Mahabharata adalah Begawan Byasa atau Vyasa. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa.                          
 Asta = delapan  Parwa = sepuluh  dan Parwa = kitab. Namun ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.
2. Ringkasan Cerita:
 Diceritakan ada dua bersaudara putra seorang maharaja, yaitu Dristrarastra dan Pandu. Dristrarastra si putra sulung, terlahir buta. Karena cacat, menurut kepercayaan Agama Hindu ia tidak bisa dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Sebagai gantinya, Pandu si putra bungsu dinobatkan menjadi raja.
Dristrarastra mempunyai 100 putra yang dikenal sebagai Kurawa, sedangkan Pandu mempunyai 5 putra yang dikenal dengan sebutan Pandawa.  Kelima Pandawa itu adalah Yudhistra, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Raja Pandu meninggal dalam usia yang masih muda, ketika anak-anaknya belum dewasa. Oleh sebab itu, meskipun buta, Dristrarastra diangkat sebagai raja, mewakili putra-putra Pandu.
Dristrarastra membesarkan anak-anaknya sendiri dan Pandawa, kemenakannya.Ia dibantu Bhisma, paman tirinya. Ketika anak-anak itu sudah cukup besar, Bhisma menyerahkan mereka pada Mahaguru Drona untuk dididik dan diberi ajaran berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan yang harus dikuasai putra-putra bangsawan atau kesatria.
Setelah para kesatria itu selesai belajar dan menginjak usia dewasa, Dristrarastra  menobatkan Yudhistira, Pandawa yang sulung, sebagai raja.  Kebijaksanaan dan kebajikan Yudhistira dalam memerintah kerajaan membuat anak-anak Dristrarastra terutama Duryodana, putra sulungnya menjadi dengki dan iri hati. Duryodana bersahabat dengan Karna, anak sais kereta yang sebenarnya putra sulung Kunti, ibu Pandawa, yang terlahir sebelum putri itu menjadi permaisuri Pandu.
Sejak semula Karna selalu memusuhi Arjuna. Permusuhannya dengan Arjuna diperuncing karena persekutuannya dengan Sangkuni. Kedengkian dan iri hati Kurawa terhadap Pandawa makin mendalam. Kurawa menyusun rencana untuk membunuh Pandawa dengan membakar mereka hidup-hidup ketika para sepupu mereka sedang beristirahat dalam istana yang sengaja dibuat dari papan kayu. Pandawa berhasil menyelamatkan diri dan lari ke hutan berkat pesan rahasia Widura kepada Yudhistira, jauh sebelum peristiwa pembakaran terjadi.
Kehidupan yang berat selama mengembara di hutan membuat Pandawa menjadi tahan uji dan kuat menghadapi segala marabahaya dan kepahitan hidup. Pada suatu hari, mereka mendengar tentang sayembara yang diadakan oleh raja Drupada dari negeri Panchala untuk mencarikan suami bagi Dewi Drupadi yang terkenal cantik, bijaksana, dan berbudi halus.
Sayembara itu dilaksanakan dengan megah dan meriah. Banyak sekali putra mahkota dari berbagai negeri datang untuk mengadu nasib.Tak satupun dari para putra mahkota yang semuanya gagah perkasa itu berhasil memenangkan sayembara. Tak satupun kesatria yang mampu memanah sasaran berupa satu titik kecil di dalam lubang sempit di pusat cakra yang terus menerus berputar. Arjuna yang saat itu menyamar sebagai brahmana maju ke tengah gelanggang. Semula sayembara itu hanya boleh diikuti oleh golongan kesatria, tetapi karena tidak ada kesatria yang mampu maka raja Drupada mempersilahkan para pria dari golongan lain untuk ikut.
Panah Arjuna tepat mengenai sasaran, ia memenangkan sayembara dan berhak mempersunting Drupadi. Pandawa membawa Drupadi menghadap ibu mereka,. Sesuai dengan nasihat dan sumpah mereka untuk selalu berbagi adil dalam segala hal, Pandawa menjadikan Drupadi sebagai istri mereka bersama.
Munculnya Pandawa di muka umum membuat orang tahu bahwa mereka masih hidup. Dristrarastra memanggil mereka pulang dan membagi kerajaan menjadi dua. Kurawa mendapatkan Hastinapura dan Pandawa mendapatkan Indraprastha. Di bawah pemerintahan Yudhistira, Indraprastha menjadi negeri yang makmur sejahtera dan selalu menegakkan keadilan.
Duryodana iri melihat kemakmuran negeri yang diperintah Pandawa. Ia menyusun rencana untuk merebut Indraprastha dengan mengundang Yudhistira bermain dadu. Dalam tradisi kaum ksatria, undangan bermain dadu tidak boleh ditolak. Dengan licik Kurawa membuat Yudhistira terpaksa bermain dadu melawan Sangkuni yang tak segan-segan bermain urang hingga Yudhistira tak pernah bisa menang.
Yudhistira kalah dengan mempertaruhkan kekayaannya, istananya, kerajaannya, saudara-saudaranya, bahkan dirinya sendiri. Setelah semua yang bisa dipertaruhkannya habis, Yudhistira yang tak kuasa mengendalikan diri mempertaruhkan Dewi Drupadi, istri Pandawa. Karena kalah berjudi, Yudhistira dan saudara-saudaranya serta Dewi Drupadi diusir dari kerajaan. Mereka diharuskan hidup mengembara dihutan selama 12 tahun, lalu pada tahun ke-13 harus hidup dalam penyamaran selama 1 tahun.
Setelah 12 tahun hidup dalam pembuangan, Pandawa hidup menyamardi negeri Wirata. Yudhistira menyamar sebagai brahmana dengan nama Jaya atau Kanka, Bima sebagai juru masak dengan nama Jayanta atau Ballawa atau Walala, Arjuna sebagai guru tari yang seperti wanita dengan nama Wijaya atau Brihanala, Nakula sebagai tukang kuda dengan nama Jayasena atau Granthika atau Dharmagranthi, Sadewa sebagai gembala sapi dengan nama Jayadbala atau Tantripala atau Aistanemi dan Drupadi sebagai dayang-dayang permaisuri raja dengan nama Sairandhri.
Setelah 13 tahun mereka jalani dengan penuh penderitaan Pandawa memutuskan meminta kembali kerajaan mereka. Perundingan dilakukan dengan Kurawa untuk mendapatkan kembali Indraprastha secara damai. Sayangnya, perundingan itu gagal karena Duryodana menolak semua syarat yang diajukan Yudhistira. Kemudian kedua belah pihak berusaha mencari sekutu sebanyak-banyaknya. Raja Wirata dan Krisna menjadi sekutu Pandawa, sedangkan Bhisma, Drona, dan Salya memihak Kurawa.
Setelah semua usaha mencari jalan damai gagal, perang tak bisa dihindarkan. Dalam pertempuran di padang Kurukshetra, Arjuna sedih melihat bagaimana sanak saudaranya tewas dihadapannya. Arjuna ingin tidak berperang. Ia ingin meletakkan senjata. Untuk membangkitkan semangat Arjuna dan mengingatkan akan tugasnya sebagai ksatria, Krisna sebagai pengemudi keretanya memberi nasehat mengenai tugas dan kewajiban seorang ksatria sesuai panggilan dharma-nya.
Pertempuran dahsyat antara Pandawa dan Kurawa berlangsung selama 18 hari. Darah para pahlawan bangsa Bhatara membasahi bumi padang pertempuran. Bhisma, Drona, Salya, Duryodana dan pahlawan-pahlawan besar lainnya juga balatentara Kurawa musnah di medan perang itu. Aswathama, anak Drona membalas kematian ayahnya dengan masuk ke perkemahan Pandawa di malam hari. Ia membunuh anak-anak Drupadi dan membakar habis perkemahan Pandawa.
Namun pada akhirnya Pandawa yang menang, tetapi mereka mewarisi janda-janda dan anak-anak yatim piatu karena seluruh balatentara musnah di medan perang tersebut. Aswathama berusaha memusnahkan Pandawa dengan membunuh bayi dalam kandungan istri Abimanyu. Berkat kewaspadaan Krisna,  bayi itu dapat diselamatkan . Bayi itu lahir dan diberi nama Parikeshit.
Setelah perang berakhir, Yudhistira melangsungkan upacara aswamedha dan ia dinobatkan menjadi raja. Dristrarastra yang sudah tua tidak dapat melupakan anak-anaknya yang tewas di medan perang terutama Duryodana. Walaupun Dristrarastra tinggal bersama Yudhistiradan selalu dilayani dengan sangat baik, namun pertentangan batinnya dengan Bima tidak dapat dielakkan. Akhirnya Dristrarastra minta diri untk pergi ke hutan dan bertapa bersama istrinya, Dewi Gandari. Sesuai  janji mereka untuk selalu bersama, Kunti menemani Gandari pergi ke hutan. Dalam sebuah kebakaran hebat yang terjadi di dalam hutan, mereka musnah dimakan api.
Kedudukan yang mendalam atas kematian sanak saudara mereka dalam perang membuat hati Pandawa tidak bisa tenang. Akhirnya setelah menyerahkan taktha kerajaan pada Parikeshit, cucu mereka, Pandawa meninggalkan ibukota dan pergi mendaki Gunung Himalaya. Seekor anjing menyertai mereka. Dalam perjalanan ke puncak Gunung Himalaya satu persatu Pandawa gugur. Roh mereka segera disambut Indra, Hyang Tunggal di Surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar