5 BULAN MENGHILANG KINI AKU SENDIRI
Ku pandangi sebuah rumah yang tak berpenghuni itu dengan tatapan
hampa, seharian aku menunggu. Di depan rumah itu, berharap ada seseorang
yang membukakan pintu, terkadang aku tertidur di depan rumah itu,
sehingga dinginnya malam membangunkanku dari tidur panjang, namun yang
ku lakukan terasa sia-sia. Ya, pintu rumah itu terkunci rapat lengkap
dengan gembok besarnya yang memasung kedua benda yang bewarna kekunigan
itu.
“Ah, mungkin sampai hari ini mereka belum pulang.” pikir batinku lalu bergegas melangkahkan kaki.
Sudah seminggu, aku terus mengunjungi rumah itu, terus mengharapkan
agar pintu rumah itu terbuka lebar, supaya aku dapat masuk dan bermanja
dengan dia. Hari ini adalah hari kedelapan aku merasakan kesepian,
segera aku melangkahkan kaki dan bergegas menuju tempat yang biasa ku
lakukan selama seminggu ini, ku rebahkan tubuhku di atas kursi panjang
yang ada di teras rumah ini, kursi ini terbuat dari kayu jati, namun
sudah usang dan lapuk, tempat di mana aku selalu menghabiskan waktu
tidur siangku bersama dia yang selalu duduk di sampingku dan setia
menemani tidurku.
“Grrrttt,” suara perutku yang sejak pagi belum diisi makanan sedikit
pun. Aku segera bangun dan turun dari kursi ini. “ah, sebaiknya aku cari
makanan dulu dan kembali lagi ke sini.” pikirku dalam hati sambil terus
malangkahkan kaki menuju sebuah kedai yang tidak jauh dari rumah ini.
Ku lihat orang-orang sudah memenuhi kedai itu, ada yang membeli makanan,
dan ada juga beberapa orang yang hanya duduk dan mengobrol dengan
temannya sambil menyeruput kopi panas yang telah dipesannya, langsung ku
hampiri seseorang yang sudah sejak lama aku kenal, Bi Sani, itulah nama
khas untuknya.
“Wah, kamu lagi ya,” sahutnya pelan sambil tersenyum kecil melihatku,
tanpa pikir panjang, ia langsung pergi ke dapur dan mengambil sepiring
kecil makanan untukku.
“Kasihan kamu, terus mengunjungi rumah kosong itu.” kata Bi Sani sambil
mengelus-elus kepalaku, aku hanya diam dan terus melahap makanan yang
diberikan Bi Sani.
Sudah hampir sebulan aku terus mengunjungi rumah itu, namun pintu itu
belum juga terbuka, malah hanya menyisakan serpihan-serpihan kayu yang
dimakan rayap berserakan tepat di depan pintu itu, “Mungkin dia tidak
menginginkanku lagi dan meninggalkanku untuk selama-lamanya.” pikirku
yang merasa kecewa dan putus asa, ku balikkan badan kemudian beranjak
pergi dari halaman rumah itu. Rasa kecewa merasuki pikiranku di
sepanjang perjalananku yang tak tentu arah tujuan aku pergi menjauhi
tempat di mana aku merasakan kasih sayang darinya. Sudah 2 hari ku
berjalan menyusuri jalan beraspal ini, aku berjalan tanpa tujuan, rasa
kecewa masih terasa dalam hatiku, aku berhenti dan duduk di kursi taman
sejenak untuk melepas penat yang menyelubungi tubuh ini.
“Ma, aku bawa pulang kucing ini ya? Biar aku pelihara.” kata anak kecil yang membuyarkan lamunanku.
“Tapi ini kucing siapa? Siapa tahu kucing ini punya orang yang ada di taman ini!” tegas mama anak kecil itu.
“Tapi Ma, dia lucu, aku pengen memeliharanya.” rengek anak kecil itu manja.
“Ya udah, bawa dia pulang!” kata mama anak kecil itu. Segera diraihnya
tubuhku dan dibawa ke dalam mobil besar bewarna silver itu.
Ku berdiri menatap rumah megah di depanku. Ya, rumah tuan baruku.
Begitu indah, “Gery.. Gery..” suara itu tak asing memanggil namaku.
Segera ku palingkan wajahku dan berlari menuju sumber suara itu,
diulurkan tangannya yang memegang sebuah mangkok berisi makanan, segera
ku lahap makanan itu.
“Dina, udah dikasih makan kucingmu Nak?” tanya mama Dina. “Nih Gery lagi
makan, Mah!” sahut Dina sambil mengelus-elus badanku. Semua orang di
rumah ini baik kepadaku, kecuali papa Dina yang selalu menatap sinis dan
bengis kepadaku, terkadang aku takut dan menjauhinya. Aneh, mungkin
hanya dia yang tidak menyukai kehadiranku di rumah ini, sehingga
membuatku tidak betah.
Minggu ini, hari dimana keluarga Dina sedang tidak sedang bekerja dan
berlibur mamah Dina dan Dina sedang pergi entah ke mana. Hanya aku dan
papa Dina yang ada di rumah, ku lirik papa dina yang tengah
bermalas-malasan di atas sebuah sofa sambil menikmati acara tv. Aku
hanya termenung di depan pintu utama bercat hijau ini, cahaya matahari
menantang dengan silaunya menembusku dan menerangi sebagian isi rumah
yang ada di belakangku. Tiba-tiba, ku tersadar dari lamunanku oleh
sebuah bayangan besar, ku tolehkan kepalaku ke belakang, ternyata papa
Dina telah siap dengan sebuah sapu sambil tersenyum iblis kepadaku. Aku
terkejut dan dengan sigap mengelak, tapi sapu itu mengenai salah satu
kakiku sehingga membuatku lari terpincang-pincang.
“Pergi kamu!” bentak papa Dina.
—
Malam ini, tekadku sudah bulat untuk pergi dari rumah ini. Ku
telusuri jalan yang telah aku lalui dulu. Dengan kaki gentai berharap
pintu rumah tuanku yang lama telah terbuka. Tapi, kenyataan tidak
mengabulkan harapanku. Pintu rumah itu masih terkunci rapat, ku
baringkan tubuhku ke kursi lapuk itu. Ku ingat saat terakhir tuanku
meninggalkanku, bunyi sirine ambulans menggema waktu itu ditambah suara
tangis perempuan yang menggotong tubuh seseorang. Tubuh tuanku, terbujur
lemas di atas tandu.
“Dia semakin lemah! Cepat!” teriak salah seorang yang mengotong tandu itu.
“Aku tak akan makan sebelum tuanku pulang.” ku niatkan dalam hatiku
telah 3 minggu telah berlalu, belum ada tanda-tanda pintu rumah tuanku
akan terbuka, sedangkan badanku semakin lemah di atas kursi lapuk ini,
malam telah datang, menghembus angin dinginnya menembus buluku yang
berwarna loreng ini. Terdengar olehku sayup-sayup suara mobil berhenti
di halaman rumah.
“Colly.. Colly..” suara yang tak asing bagiku itu memanggil nama
lamaku. Aku tak bergeming, ku pikir suara itu hanya mimpi saja. Aku
tersentak lemah, sebuah tangan mengelus-elus buluku dengan lembut,
nyaman. “meongg..” parau suaraku, aku tatap wajahnya yang tak asing
bagiku dengan mata berbinar, aku senang.
“Ma, kayaknya dia sakit!” ujarnya.
“Cepat bawa dia ke rumah. kasih dia makan, Deka!” jawab mama tuanku.
Digendongnya tubuhku yang sudah kurus dan dibawanya ke tempat tidur yang
telah kumuh, segera diambilnya sereal kucing di dalam mobil, tampaknya
dia membawa oleh-oleh untukku, diberikan kepadaku, ku tatap wajahnya
sayu, dia tersenyum kecil. Lalu ku lahap sereal yang disodorkannya sejak
tadi.
Satu bulan telah berlalu, aku telah sehat, gemuk dan ceria kembali,
begitupun dia, tuanku. Aku bahagia, setelah 5 bulan ditinggalkan olehnya
aku tak ingin lagi ditinggalkannya, tuanku.
Seandainya aku manusia, aku ingin sekali mengungkap rasa kecewaku, rasa
kesalku, putus asaku dan bahagiaku kepadanya. Tapi, tak bisa ku lakukan,
karena aku hanyalah seekor kucing yang berbahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar